Friday, September 9, 2011

People Quit People, Not Company

Statement di atas diambil dari buku Leadership Gold by John C. Maxwell yang baru saja selesai gue baca.  Sekilas tentang buku, banyak point-point yang applicable dan waktu dibaca bikin gue ber "Ooohh.. iya jugaa.." sendiri.

Singkat cerita, jadi sekarang gue kerja part time di Sno, Pyramid, sebuah local beverage company yang fokus pada shakes dan smoothies.  Hampir sebulan bekerja disana, layaknya company-company pada umumnya, ternyata banyak lika-liku yang terjadi di dalamnya.  Padahal, kalau mau dihitung, kayaknya total staff disana ga lebih dari kesebelasan sepak bola.  Dalam sebulan gue di Sno, unfortunately ada 2 orang pentolan di Pyramid yang resign.  Sayang sebenarnya, mengingat yang satu manager, dan yang satu lagi, sudah kayak full timer disana.

Kembali ke statement di atas, coba deh kita renungkan, sambil lihat kanan kiri, memang pada kenyataan nya seseorang lebih banyak resign dengan alasan "ga cocok sama si ini dan si itu.." daripada "ga cocok sama company nya"  Kabar burung yang beredar, di tempat gue kerja sekarang juga sempat terjadi mogok kerja, resign masal gara-gara ulah seseorang.  Bahkan orang-orang yang masih stay juga sependapat sama yang sudah pada resign.  That's pity.  Bisa kamu bayangkan kalau kamu, tanpa disadari adalah si pembuat ulah.  Life will be miserable man, knowing that people arround you don't like you.

Inspite of those fact, gue pribadi ga ada, atau belum ada masalah sama yang bersangkutan, jadi yah gue ga mau terlalu nge-judge juga, toh orangnya juga baik2 aja sama gue.  Dan saya senang, karena kemaren habis gajiann.. Hore hore!! Besides, kerjaan di sana juga cukup menyenangkan.  Temen-temen yang kerja semua student part timers juga, dan kerjaannya simple dengan salary yang sama. Not bad at all.

Happy working, Happy studying, Happy playing.....

Friday, July 29, 2011

Maaf, kepotong...

Maksud baik tidak selalu berhasil baik.

Seiring dengan kepulangan ke Malaysia, mau nggak mau saya harus beres-beres rumah dan kamar baru. Nah, kemarin, dengan penuh semangat dan tekad tinggi, saya bermaksud membereskan kabel-kabel internet yang karena kecanggihan Wi-Fi technology, tidak terpakai lagi. Sebenarnya sudah lama (bertahun-tahun -red) saya merasa kabel-kabel itu cuma menjadi pengganggu di rumah. FYI saya beruntung bisa kembali ke unit di mana saya tinggal dulu. Akhirnya kesempatan datang untuk saya membereskan kabel-kabel berserakan itu. Seingat saya, sudah saya pastikan tidak ada kabel-kabel yang terhubung dengan line internet dan telepon. Setengah jam berlalu, saya cukup puas dengan hasil pekerjaan saya.

Namun, malam harinya, seorang housemate komplain atas terputusnya line internet selama berjam-jam. Saya yang baru pindah malah bertanya, "Memangnya internet disini sering mati seperti ini?" Dia pun mengiyakan. Setelah mengkonfirmasi dengan housemate lain, saya pun tau koneksi internet dirumah mati sejak sore hari, yang berarti setelah saya 'bersih-bersih' rumah. Deg. Saya pun mulai was-was, apa mungkin saya secara tidak sengaja memotong kabel yang masih berfungsi?

Mulailah saya menelusuri kabel-kabel telepon. Oh no! Sepertinya memang demikian sodara-sodara. Gara-gara terlalu agresif memotong kabel-kabel, saya tidak sengaja memotong line telepon juga. Pantas saja internet ga nyambung sejak sore. Saya pun mengaku dosa pada housemate yang kebingungan mengurusi internet "Kayaknya pas gue beres-beres tadi, gue ga sengaja motong kabel nya dehhh...." Untung aja housemate saya baik. Dia bilang "Masa sih? Aku juga tau kok kabel-kabel itu udah ga kepake lagi..."

Setelah penyelidikan selesai, terbukti memang sayalah orangnya! Yang memutus koneksi telpon sekaligus internet. Untungnya kami cuma perlu memindahkan pesawat telepon dan langsung menghubungkan kabel tanpa menggunakan kabel yang putus. Internet pun jalan lagi dengan lancarnya.

Hal serupa terjadi saat papa berbaik hati mau membetulkan koper yang rusak. Setelah seminggu tanpa koper dan mendelay packing barang untuk ke Malaysia, aku mendapati koperku dengan gagang baru, yang sedihnya lebih tipis dan ringkih dari yang sebelumnya. Sempat kesal karena koper super besar berkapasitas 25kg+ itu pasti nggak kuat bertumpu pada si gagang tipis baru. Ya apaboleh buat, toh aku masih bisa pakai kopernya...

Maaf teman, kali ini maksud baik tidak menjamin hasil yang baik juga.

Wednesday, June 15, 2011

inspection

Last week, i was caught by tram inspector with no valid ticket to travel on my way back home. I was alone that time, innocently get into a tram, didn't touch on my myki card just like what I always did. Unfortunately, I didn't realize there was an inspector entered the tram in the same stop. So after awhile, He asked everyone to show him the ticket! Dang!

Still act innocent, I gave him my myki which I know haven't been activated anytime that day. I thought, when He saw me that I had a ticket, He will just go away. Bad luck for me, instead of went away, He took out his Myki detector and checked my card. O,Oh..

He then pointed that the last time I touched on my Myki was a week before. Which means I got caught illegaly travel on the tram. Then he asked me whether I touched on by the time I got into the tram. Instead of replying, I asked (read: acting stupid), "Isn't that with Myki we only need to touched on one time on the tram? (I was saying that I thought we can touched on anytime we want, by the time we got in or get off). He said, "NO! You should touched on when you get into the tram, but Yea, u just need to touched one time."

I was proven guilty.

But luckyly, He didn't fine me. Huhuhu. He just said, "Be careful next time. Be alert."
Before the inspection happened, actually I was reading my lecture notes, but then I was shocked that I couldn't continue any longer.

This is not something to be proud of, or something to be celebrated that I can escape the officer. This is more about real teaching and a reminder.